Belajar Dari Kasus Eiger

 132 kali total dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Belum lama ini brand Eiger, perusahaan lokal yang memproduksi perlengkapan outdoor, menjadi perbincangan di sosial media akibat blunder yang dilakukan manajemen Eiger.

 

Kasus bermula dari ‘surat cinta’ Eiger kepada seorang YouTuber Dian Widiyanarko yang menyatakan keberatan atas review sebuah produk Eiger, serta meminta Dian untuk men-take down video tersebut.

 

Dilihat dari isi video, review @duniadian sangat positif, namun Eiger menganggap kualitas video tersebut buruk sehingga tidak layak tayang.

 

Pernyataan keberatan manajemen Eiger tersebut disampaikan dalam bentuk surat resmi yang ditandatangani Hendra selaku HCGA & Legal General Manager PT Eigerindo Multi Produk Industri.

 

Tiga poin keberatan Eiger yakni:

 

1. Kualitas video review produk yang kurang bagus dari segi pengambilan video yang dapat menyebabkan produk kami terlihat berbeda dari segi warna, bahan, dan detail aksesoris menjadi terlihat kurang jerlas.

2. Adanya suara di luar video utama yang dapat mengganggu (noise) sehingga inforasi tidak jelas bagi konsumen.

3. Setting lokasi yang kurang propper bagi pengambilan video.

 

Belajar Dari Kasus Eiger
Belajar Dari Kasus Eiger

 

Di sinilah letak kesalahan Eiger, mengoreksi dan ‘sok gatur’ pelanggan dalam membuat review, padahal konten tersebut bukan endorsement.

 

Eiger seharusnya berterima kasih kepada pelanggan yang secara sukarela menjadi influencer. Faktanya, hanya sebagian kecil pelanggan yang mau berbagi pengalaman baik dan merekomendasikan suatu produk. Lebih banyak justru menyampaikan pengalaman buruk ketika kecewa terhadap produk atau pelayanan.

 

Dan perlu diketahui bahwa masyarakat umumnya malah tidak menyukai konten yang terlalu bagus, karena mereka tahu itu iklan berbayar. Masyarakat justru lebih percaya pada review yang dibuat secara natural meski kualitas video amatir. Ini yang kurang dipahami manajemen Eiger.

Baca juga:  Cara klaim token listrik PLN GRATIS untuk bulan Februari

 

Dian Widiyanarko melalui akun Instagram @duniadian kemudian menaggapi ‘surat cinta’ Eiger tersebut:

 

“Halo @eigeradventure jujur kaget saya dapat surat begini dari Anda. Lebih kaget lagi baca poin keberatannya. Saya kan review produk gak anda endorse.
Kalau anda endorse atau ngiklan boleh lah komplen begitu. Lha ini beli, gak gratis, lalu review pake alat sendiri.
Ya maaf kalau gak sempurna karena saya youtuber kaki lima, belum bintang lima yang alatnya cinematik.

Malah seharusnya anda berterima kasih, dapat promosi gratis ke 37ribu subscribers. Wong videonya tonenya positif.

Ini videonya: https://youtu.be/pypfhi-NqjI

Ini bad PR banget.

FYI saya ini konsumen setia EIGER sejak lama.

Tapi okelah kalau Anda keberatan, saya terima keberatannya dan saya mohon maaf.
Tapi permintaan untuk menghapus, sorry gak bisa.

Mulai hari ini saya tidak akan beli produk Anda lagi dan tidak akan mereview di channel saya lagi. Biar hanya YouTuber bintang lima dengan alat canggih saja yang mereview produk anda.”

 

Belajar Dari Kasus Eiger
Belajar Dari Kasus Eiger

 

Tanggapan @duniadian kemudian menjadi viral, sebagian besar netizen menyayangkan sikap dan tindakan Eiger. Lebih celaka lagi, banyak yang mengajak boikot produk Eiger.

Melihat situasi semakin tidak menguntungkan, Eiger pun segera menyampaikan pemintaan maaf secara resmi kepada Dian dan juga kepada masyarakat.

 

Belajar Dari Kasus Eiger
Belajar Dari Kasus Eiger

 

Nah, yang menggelitik adalah kecerdikan Arei (kompetitor Eiger dalam kategori outdoor) memanfaatkan momentum ini untuk melakukan kampanye unik dengan merilis “Surat Keringanan”, kebalikan dari “Surat Keberatan” yang dilayangkan Eiger kepada Dian.

Baca juga:  Daftar Kode Bank di Indonesia

 

Isi surat Arei intinya memberikan ‘keringanan’ kepada warganet dan masyarakat luas untuk membuat review produk Arei menggunakan peralatan seadanya dengan cara yang diinginkan.

Belajar Dari Kasus Eiger
Belajar Dari Kasus Eiger

 

Beberapa netizen menilai kampanye Arei ini tidak etis, namun banyak pula yang menganggap ini cerdik. Bagaimanapun, tindakan Arei tidak melanggar hukum. Soal etika, Arei sama sekali tidak menyinggung atau menyerang Eiger, bukan?

 

***

Hikmah dari kejadian ini adalah keikhlasan Dian Widiyanarko untuk memaafkan, serta kerendahan hati manajemen Eiger untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan tersebut.

 

Kedua, dari segi branding jelas ini sangat berpengaruh. Sebaik apapun produk yang dihasilkan suatu perusahaan, semua akan sia-sia manakala manajemen melakukan blunder.┬áLagi-lagi peribahasa “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga” terbukti dalam kasus Eiger ini.┬áBeruntung Eiger cepat tanggap dan langsung menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf.

 

Terakhir, hati-hati terhadap kompetitor. Jangan berikan kesempatan kepada kompetitor untuk menyalip di tikungan.

Sultan
Author: Sultan

Seorang laki-laki yang memiliki karakter Feeling Introvert, ayah dua anak, suka kopi dan fotografi.

Bagaimana menurutmu?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1
Berbagi tulisan ini

Komentar

  • Belum ada - Jadilah yang pertama
  • Bagaimana Menurut Anda?